‘Si Anak Singkong’. Kalau mendengar kalimat ini, pasti ada satu nama
yang terlintas di kepala kita. Yaitu Dialah Chairul Tanjung.
Chairul Tanjung Si Anak Singkong adalah judul dari sebuah buku yang
disusun oleh seorang wartawan kompas bernama Tjahja Gunawan Adiredja.
Lewat buku ini, perjalanan hidup Chairul Tanjung dikupas tuntas. Dari
buku ini kamu akan mendapatkan jawaban bagaimana si anak singkong ini
bisa berubah menjadi pengusaha sukses yang kerajaan bisnisnya ada
dimana-mana.
Anak singkong bukan hanya sebatas judul buku bagi perjalanan hidup
Chairul Tanjung. Julukan ini melekat pada dirinya sejak kecil.
Teman-temannya dulu sering memanggilnya dengan julukan anak singkong
sebagai sebutan lain dari anak kampung. Tapi siapa sangka, anak singkong
itu sekarang sudah berdiri tegak meraih semua mimpinya dan sukses berat
menjalankan bisnis-bisnisnya.
Sebuah nama yang mudah diingat, Chairul Tanjung. Siapa sih, yang tidak
mengenal pengusaha sukses asal Indonesia ini? Kesuksesannya sebagai
pengusaha dan perannya sebagai Menko Perekonomian telah membuat namanya
begitu akrab di telinga kita. Ditambah lagi dengan nama beliau yang
sering terselip di daftar nama orang-orang terkaya, baik di Indonesia
maupun di dunia. Ingin mengenal beliau lebih lanjut? Mari simak profil
Chairul Tanjung dalam ulasan berkuliah.com berikut ini:
Chairul Tanjung adalah pengusaha asli Indonesia yang lahir di Jakarta
pada tanggal 16 Juni tahun 1962. Pria berusia 52 tahun ini dikenal luas
sebagai pendiri sekaligus pemimpin CT Corp yang sebelumnya bernama Para
Group. Chairul Tanjung lahir dari rahim seorang ibu bernama Halimah yang
memiliki darah Sunda berasal dari Cibadak, Sukabumi. Ayahnya bernama
A.G. Tanjung memiliki darah Batak berasal dari Tapanuli Tengah.
Kalau melihat kesuksesan Chairul Tanjung saat ini, sulit rasanya untuk
percaya kalau dulu beliau sempat mengalami masa-masa sulit dalam
hidupnya. Chairul Tanjung lahir dari keluarga yang sederhana namun cukup
berada. Ayahnya adalah wartawan pada era orde lama yang menerbitkan
surat kabar beroplah kecil. Kehidupan Chairul Tanjung dan keluarganya
diuji ketika usaha ayahnya dipaksa untuk tutup di masa orde baru karena
secara politik berseberangan dengan penguasa saat itu. Tulisan-tulisan
yang ada di surat kabar ayah Chairul Tanjung dianggap berbahaya sehingga
harus ditutup. Keadaan ini membuat orang tua Chairul Tanjung terpaksa
harus menjual rumah dan berpindah tempat tinggal ke kamar losmen yang
sempit juga sangat sederhana.
Pendidikan Chairul Tanjung dimulai di bangku sebuah sekolah dasar yaitu
SD Van Lith, Jakarta pada tahun 1975. Lulus dari SD Van Lith pada tahun
1978, Chairul Tanjung segera masuk ke SMP Van Lith, Jakarta. Kemudian,
pada tahun 1981 Chairul Tanjung diterima di SMA Negeri 1 Boedi Oetomo,
Jakarta. Tak patah semangat meskipun hidupnya sederhana, Chairul Tanjung
melanjutkan sekolahnya ke jenjang perguruan tinggi dengan masuk ke
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.
Sehingga apapun keadaannya, sesulit apapun kondisi mereka, keluarga
Chairul Tanjung selalu berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan
pendidikan setinggi-tingginya. Segala daya dan upaya ditempuh oleh orang
tua Chairul Tanjung demi menyekolahkan anak-anak mereka, termasuk
Chairul Tanjung. Ibu Chairul Tanjung buktinya rela berjualan kain batik
untuk membiayai Chairul Tanjung masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Indonesia.
Semasa kuliah, Chairul Tanjung yang berasal dari keluarga sederhana ini
mengalami pengalaman yang luar biasa. Tidak seperti mahasiswa yang
kerjanya hanya fokus belajar dan bisa merasakan fasilitas dari orang tua
dengan santai, Chairul Tanjung sudah diajari untuk menjadi pekerja
keras di masa kuliahnya. Dengan masih menyandang status sebagai
mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Chairul
Tanjung mulai menunjukkan bakatnya di dunia bisnis. Kesulitan finansial
yang menimpa keluarganya membuat Chairul Tanjung mulai mengasah
kemampuannya dalam berbisnis.
Demi memenuhi kebutuhan kuliahnya, Chairul Tanjung memulai bisnis
kecil-kecilan. Mulai dari menjual buku, kaos, sampai alat-alat
kedokteran dan laboratorium yang dibutuhkan oleh teman-temannya di
Fakultas Kedokteran Gigi. Usahanya menjual alat-alat laboratorium dan
kedokteran ini sempat berkembang baik, sampai beliau mampu mendirikan
sebuah toko di kawasan Senen Raya, Jakarta Pusat. Sayangnya tokonya ini
tidak lama berdiri karena mengalami kebangkrutan. Selain itu, Chairul
Tanjung juga sempat membuka usaha fotokopi di lingkungan kampusnya.
Chairul Tanjung juga pernah mencoba untuk membuka sebuah bisnis di
bidang kontraktor dan telah mengerjakan berbagai proyek industry,
terutama barang-barang dengan bahan dasar rotan.
Menyibukan diri untuk belajar merintis bisnis, tidak membuat Chairul
Tanjung lalai pada tugas utamanya untuk kuliah. Selain mengasah bakatnya
di dunia bisnis, Chairul Tanjung juga menjadi mahasiswa teladan.
Terbukti di masa kuliah beliau pernah mendapatkan penghargaan sebagai
mahasiswa teladan tingkat nasional periode tahun 1984-1985. Penghargaan
yang beliau dapat ini merupakan penghargaan sebagai anggota civitas
akademika yang berjasa kepada fakultas dan universitas. Terbukti kan,
kalau tokoh yang satu ini selain memiliki sifat yang gigih juga memiliki
otak yang cerdas? Beliau bisa berbisnis tanpa harus mengabaikan
kegiatan perkuliahannya. Patut dicontoh ya!
Chairul Tanjung menamatkan kuliahnya pada tahun 1987. Selesai kuliah,
beliau tampaknya tidak tertarik untuk bekerja sesuai dengan ilmu yang
digelutinya semasa kuliah. Ya, jiwa pebisnis nampaknya sudah melekat
kuat pada diri seorang Chairul Tanjung. Bersama 3 orang temannya,
Chairul Tanjung mendirikan PT Pariarti Shindutama. Modal yang digunakan
diperoleh dari Bank Exim sebanyak 150 juta Rupiah. Perusahaan ini
memproduksi sepatu anak-anak untuk kemudian diekspor. Berbeda dengan
usaha peralatan laboratorium dan kedokteran yang sebelumnya beliau
jalani dan terpaksa bangkrut, bisnis kali ini Chairul Tanjung meraup
keuntungan yang cukup besar. Beliau dan teman-temannya mendapatkan
pesanan 160 pasang sepatu langsung dari Italia. Seiring berjalannya
waktu, Chairul Tanjung merasa tak lagi sejalan dengan rekan-rekannya
itu, sehingga beliau memutuskan untuk membangun bisnisnya sendiri.
Bukan Chairul Tanjung namanya kalau tidak bisa bertahan seorang diri di
tengah dunia bisnis yang cukup mengerikan ini. Setelah memutuskan
berhenti dari bisnis sepatu ekspor, Chairul Tanjung mencoba bisnis baru.
Dengan kemampuannya membangun jaringan dan pengalamannya dalam dunia
bisnis yang sudah didapatkan sejak duduk di bangku kuliah, Chairul
Tanjung membangun sebuah usaha yang arahnya ke konglomerasi. Beliau
menyusun 3 bisnis inti, yakni: keuangan, properti, dan multimedia.
Perusahaan konglomerasi ini kemudian diberi nama sebagai Para Group.
Para Group memiliki father holding company, yaitu: ‘Para Inti Holdindo’
yang memiliki beberapa sub-holding yang terdiri dari ‘Para Global
Investindo’ yang bergerak di bisnis keuangan, ‘Para Inti Investindo’
yang bergerak di bisnis media dan investasi, serta ‘Para Inti
Propertindo’ yang bergerak di bisnis properti. Banyak juga ya? Lalu,
perusahaan apa saja yang dimiliki oleh Chairul Tanjung lewat Para Group
ini?
Di bidang finansial, Chairul Tanjung memiliki sejumlah perusahaan,
antara lain: Asuransi Umum Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Para Multi
Finance, Mega Capital Indonesia, Bank Mega, Bank Mega Syariah, dan Mega
Finance. Tidak berhenti di sini, Chairul Tanjung memiliki perusahan di
bidang properti dan investasi yaitu Para Bandung propertindo, Para Bali
propertindo, Batam Indah propertindo, Mega Indah propertindo. Kemudian
di bidang penyiaran dan multimedia, Para Group memiliki Trans TV,
Trans7, Mahagagaya Perdana, Trans Fashion, Trans Lifestyle, dan Trans
Studio.
Khusus di bidang properti, Para Group memiliki Bandung Supermall. Mall
dengan luas 3 hektar ini dalam pembangunannya menghabiskan dana sebesar
99 miliar Rupiah. Pada tahun 1999, mall ini diluncurkan oleh Para Group
sebagai Central Business District. Lalu, pada awal tahun 2010 Chairul
Tanjung memperluas bisnisnya dengan membeli sebagian besar saham
Carrefour sebanyak 40 % senilai 3 triliun Rupiah melalui PT Trans Ritel.
Dengan memiliki 40% saham Carrefour, kini Chairul Tanjung menjadi
komisaris utama PT Carrefour Indonesia didampingi oleh AM Hendropriyono
(mantan Kepala BIN) dan S. Bimantoro (mantan petingi Polri) sebagai
komisaris. Diharapkan, di bawah Chairul Tanjung, Carrefour dapat
mengedepankan kepentingan nasional seperti dapat menyumbangkan pembinaan
terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia.
Tercatat pada tanggal 1 Desember 2011, Chairul Tanjung membuat perubahan
pada nama besar Para Group menjadi CT Corp. CT Corp ini terdiri dari 3
perusahaan sub-holding, yakni: Mega corp, Trans corp, dan CT Global
Resources yang meliputi layanan financial, media, ritel, gaya hidup,
hiburan, dan sumber daya alam. Karena kesuksesannya berbisnis ini,
Chairul Tanjung mendapatkan penghargaan sebagai Eksekutif Muda
Berprestasi periode tahun 1992-1993 dari Studio Seven Production,
Jakarta. Penghargaan bergengsi ini diberikan kepada beliau pada tanggal
23 Mei 1993. Setahun sebelum penghargaan ini diberikan, Chairul Tanjung
berhasil menyelesaikan sekolahnya di Institut Pendidikan dan Pembinaan
Manajamen (IPPM). Kali ini bidang ilmu yang beliau pilih lebih menjurus
pada profesinya sebagai seorang pengusaha.
Bagaimana? Kaget dengan kerajaan bisnis yang dibangun oleh Chairul
Tanjung? Bagaimana ya Chairul Tanjung bisa membangun jaringan bisnis
sebesar ini? Seperti kita ketahui, beliau tidak berasal dari keluarga
dengan darah bisnis yang kental. Beliau juga memiliki latar belakang
pendidikan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia bisnis,
yaitu kedokteran gigi. Tapi, mengapa beliau begitu sukses dengan
jaringan bisnisnya?
Chairul Tanjung mempraktekannya dalam kehidupan nyata. Beliau membangun
jaringan dimana-mana dengan berteman pada siapa saja dan menjalin relasi
dengan perusahaan ternama maupun perusahaan kecil. Menurut Chairul
Tanjung, pertemanan akan membantu proses bisnis untuk berkembang pesat.
Contoh sederhananya adalah ketika kita jatuh dan bisnis kita dalam
kondisi tidak bagus maka relasi bisa diandalkan.
Membangun jaringan adalah kunci sukses dari seorang Chairul Tanjung.
Dengan membangun relasi yang baik di manapun, kini Chairul Tanjung bisa
mendapatkan kesuksesannya dalam menjalankan bisnis yang jumlahnya tidak
hanya satu atau dua. Sebut saja salah satunya adalah kiprah Chairul
Tanjung di bisnis pertelevisian dengan mendirikan Trans Corp yang
membawahi Trans TV dan Trans 7. Chairul Tanjung yakin Trans TV bisa
terus berkembang meskipun persaingan di industri pertelevisian semakin
ketat. Beliau bisa berharap demikian karena melihat bahwa belanja TV
nasional telah mencapai angka 6 trilium setahun dan 70% di antaranya
akan diambil oleh televisi.
Dalam hal investasi, bagi Chairul Tanjung perusahaan lokal juga bisa
menjadi perusahaan yang bisa bersinergi dengan perusahaan-perusahaan
multinasional. Karena pemikiran inilah Chairul Tanjung tidak menutup
diri dan mau bekerja sama dengan perusahaan multinasional dari luar
negeri. Ini bisa jadi sebagai upaya perusahaan nasional Indonesia untuk
bisa berdiri sendiri dan jadi tuan rumah di negeri sendiri. Inilah yang
Chairul Tanjung harapkan.
Sebagai pengusaha yang sukses, Chairul Tanjung ternyata cenderung lebih
tertarik melakukan akuisisi dibandingkan harus membangun bisnis sendiri.
Karena menurut Chairul Tanjung, akuisisi perusahaan membuat sinergi
memperluas ladang usaha.
Dalam perjalanannya berbisnis, bagi Chairul Tanjung modal adalah faktor
yang penting untuk membuat sebuah usaha berdiri dan mengembangkannya
menjadi besar. Akan tetapi, penting diketahui oleh orang-orang yang
ingin merintis bisnis bahwa kemauan dan kerja keras wajib dimiliki oleh
mereka yang ingin sukses dalam bisnisnya. Dan jangan lupa, kembali lagi
pada mitra kerja atau relasi. Menurut Chairul Tanjung, membangun
kepercayaan sama halnya dengan membangun integritas. Disinilah
pentingnya membangun jejaring dalam menjalankan bisnis.
Kegigihan dan kerja keras Chairul Tanjung ini membawa beliau ke puncak
kesuksesan. Sebagai buktim namanya berada di dalam daftar orang terkaya
dunia oleh majalah ternama Forbes di tahun 2010. Pencapaian yang diraih
Chairul Tanjung membuat majalah Forbes tak ragu untuk menunjuk beliau
sebagai salah satu orang terkaya dunia asal Indonesia. Forbes menyatakan
bahwa Chairul Tanjung berada di urutan ke-937 dunia dengan total
kekayaan US$ 1 miliar. Kemudian, pada tahun 2011 Forbes kembali
menyatakan Chairul Tanjung menduduki peringkat 11 orang terkaya di
Indonesia dengan total kekayaan US$ 2,1 miliar. Lalu yang terbaru, tahun
2014 Chairul Tanjung kembali dinyatakan menjadi orang terkaya nomor 375
di dunia dengan jumlah kekayaan US$4 miliar berdasarkan majalah Forbes.
Ingin seperti beliau dengan kesuksesan bisnis yang luar biasa dan
kekayaan yang nominalnya begitu menakjubkan? Simak tips Chairul Tanjung
berikut!
Selain dikenal di dunia bisnis, Chairul Tanjung juga akrab dikenal di
dunia politik. Kiprahnya di dunia politik ditunjukkan dengan diangkatnya
beliau sebagai Menko Perekonomian. Pada tanggal 16 Mei 2014, Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono telah menunjuk Ketua Komite Ekonomi Nasional
(KEN) Chairul Tanjung untuk menduduki posisi sebagai Menko Perekonomian.
Duduknya beliau sebagai Menko Perekonomian ini menggantikan posisi
Hatta Rajasa yang telah resmi mengundurkan diri karena akan maju menjadi
cawapres mendampingi Prabowo Subianto. Kemudian berdasarkan Keputusan
Presiden Nomor 41 Tahun 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara
resmi melantik Chairul Tanjung di istana negara pada hari senin tanggal
19 Mei 2014.
Perjalanan hidup Chairul Tanjung dari mulai berstatus sebagai mahasiswa
yang tidak memiliki apa-apa sampai mencapai puncak kesuksesan ini pasti
menginspirasi banyak orang, terutama mahasiswa. Banyak hal yang bisa
kita pelajari dari cerita hidup Chairul Tanjung ini. Mulai dari
semangat, kegigihan, dan kesabarannya dalam mulai merintis bisnis hingga
bisa mencantumkan namanya dalam deretan orang terkaya di dunia versi
majalah Forbes.
Chairul Tanjung adalah salah satu contoh yang ditunjukkan kepada kita
sebagai mahasiswa, bahwa untuk menjadi sukses kita tak harus memiliki
latar belakang pendidikan yang sesuai dengan profesi kita kelak. Chairul
Tanjung membuktikannya. Beliau kuliah di fakultas kedokteran gigi,
namun tidak satupun profesinya yang berhubungan dengan dunia kedokteran.
Kita bisa mengambil satu pesan dari kisah beliau yang satu ini, yaitu
untuk mengikuti kata hati dan keingian kita masing-masing.
Pernah merasa salah jurusan? Pernah merasa bakatmu tidak sesuai dengan
ilmu yang kamu pelajari sekarang? Maka, kisah Chairul Tanjung bisa
menjadi motivasi untukmu. Beliau menyelesaikan sekolahnya dengan baik
dan membangun bisnisnya dengan hasil yang luar biasa. Kuncinya hanyalah
pada kemauan dan kerja keras! Temukan jalanmu sendiri, tentukan pilihan
masa depanmu, dan cobalah untuk selalu konsisten dengan apa yang sudah
kamu pilih.
Menentukan pilihan hidup kita bukanlah hal yang mudah, Chairul Tanjung
juga mengalaminya. Lihat saja ketika beliau harus mencoba satu per satu
jenis usaha dari mulai ketika masih kuliah sampai lulus kuliah. Beliau
berusaha menemukan bidang apa yang paling cocok untuk dijadikan lahan
bisnis olehnya. Tidak ada kata takut atau ragu bagi seorang Chairul
Tanjung. Jika beliau takut memulai sebuah bisnis, ragu dalam mencoba
berbagai jenis usaha, mungkin saja Chairul Tanjung tidak akan berdiri
sukses seperti sekarang ini.
Dari kisah hidup Chairul Tanjung yang berangkat dari titik nol sampai
kemudian mengalami naik turun demi mencapai kesuksesan, kita bisa
mengambil beberapa kesimpulan:
Pertama, jangan pernah takut untuk memulai sesuatu. Seperti
Chairul Tanjung yang tanpa keraguan berani mengambil keputusan besar
untuk mulai berbisnis.
Kedua, jangan ragu untuk mencoba apapun selama kita mampu.
Seperti Chairul Tanjung yang berani mencoba berbagai jenis bisnis sampai
akhirnya menemukan bisnis yang paling sesuai dengan dirinya.
Ketiga, jangan merasa minder akan diri sendiri. Chairul Tanjung
mungkin pernah dijuluk anak singkong, tapi ia tidak merasa minder dengan
julukan tersebut dan terus melaju membuktikan bahwa ia mampu untuk
mengangkat derajat hidup dirinya dan keluarga.
Keempat, jangan mudah menyerah! Seperti seorang Chairul Tanjung
yang selalu terus maju menjalankan bisnisnya meskipun banyak rintangan
dan halangan, meskipun akan selalu ada saat dimana kita harus menerima
kekalahan.
Dan yang terakhir adalah, kesabaran untuk mencapai sukses. Seperti
seorang Chairul Tanjung yang perlahan namun pasti meniti kariernya
membangun satu demi satu bisnis, hingga sekarang menjadi kerajaan bisnis
yang begitu besar sampai bisa mengantarkan beliau menjadi salah satu
orang terkaya di dunia.
Semoga memberikan Motivasi tambahan untuk kalian ya, dan salam Hangat Dari Kami Seinspiratif. :))

EmoticonEmoticon